Media Sosial, Sharing dan Copy paste

Seorang teman bertanya kepada saya yang mungkin bisa menjadi bahan tulisan seperti ini:
“Boleh minta pendapat ttg medsos, ttg kebiasaan orang sharing juga copy paste mungkin bisa jadi tulisan ?”

Sebenarnya saya malu kepada ulama salaf Hasan Al Basry -semoga Allah memberkahinya- yang memiliki ilmu yang tinggi, namun menjawab tidak tahu saat ditanya seseorang. Karena kebodohan dan sok tahunya saya, pertanyaan teman tersebut saya jadikan tulisan.
Menurut wikipedia, Media sosial adalah sebuah media online , dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Dari definisi di atas, media sosial tak dapat kita hindari keberadaannya karena Ianya merupakan hasil inovasi teknologi yang luar biasa yang sebelumnya banyak orang tak menduganya atau menganggapnya aneh. Seperti anehnya mimpi bertanggal Edison yakni andaikan malam ada matahari (lampu); manusia bisa terbang (Wright bersaudara); setiap rumah memiliki pc (Jobs) dan toko buku online (Bezos).

Dan media sosial diperuntukan untuk berbagi ( sharing) dan berpartisipasi. Media sosial memudahkan orang saling bertukar pengetahuan satu sama lain. Dan salah satu cara sharing di media sosial adalah dengan copy paste dari sumber tertentu. Copy paste yang dilakukan banyak orang tentu sah-sah saja. Namun, bagaimana metode copy paste yang baik?

Saya menemukan metode yang baik cara copy paste dalam khazanah Islam yakni bagaimana Imam Bukhari dan Muslim -yang terkenal keshahihan haditsnya- memeriksa kebenaran haditsnya dengan 2 cara yakni memeriksa maknanya dan sumber utamanya. Memeriksa maknanya sangat penting atas sebuah informasi. Memahami makna apa yang kita akan copy paste, tulis, ucapkan dan yang lain sangat penting agar kita dapat menjawab bila ada pertanyaan dengan apa-apa yang kita lakukan.

Menelusuri sumber utamanya juga sangat penting. Menelusuri sumber utama seperti permainan pesan berantai sejumlah orang yang berderet. Namun Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam menelusuri sumber pertamanya tidak lah semudah seperti permainan pesan berantai karena orang-orang yang memberitakan hadits/informasi tersebut berada di kota-kota yang berbeda dan sangat jauh. Dan setiap sumber (perawi) yang ditemuinya, mereka periksa keadilannya. Jika perawi tersebut memelihara ayam, namun tidak memberi makan ayam tersebut sehari saja, maka Imam Bukhari dan Muslim akan menolak hadits/informasi tersebut.

Metode yang digunakan Imam Bukhari dan Imam Muslim dengan teknologi yang ada sekarang ini sebenarnya mempermudah kita melakukannya apakah berita tersebut baik dan benar serta layak disebarkan hingga kita meminimalkan informasi hoax dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas informasi yang kita sebarkan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s