Berbagi Kebahagiaan dan Kebaikan

Saya menyambung tali kasih dengan bimbingan pim iv dan prajabatan cpns dengan broadcast ini. Mengenal karakter orang lain begitu menyenangkan. Begitu pun saat membimbing mereka dan chat melalui whattsApp ini, saya sedikit mengenal karakter mereka. Dan saya berharap mereka memperoleh kebahagiaan dan kebaikan.

Ketika bertemu dengan salah satu bimbingan prajabatan yang masih muda ini yang pertama kali Ia tampak memiliki karakter baik yakni bertanggung jawab. Belum lama ini, saya bertanya sesuatu yang beliau menjawab,” saya mau menjadi relawan sosial pak di dunia pendidikan dan lingkungan.”

Dari jawaban ini, saya menilai anak muda ini merupakan sedikit orang yang telah tahu menjadi apa karena sebagian besar orang hanya tahu ingin memiliki apa. Saya pun tahu mau menjadi apa ( widyaiswara) pada tahun 2014 (48 tahun) setelah banyak membaca buku-buku pengembangan diri.

Dari jawaban tersebut pula, anak muda ini juga pasti telah memiliki values ( nilai-nilai) karena values tersebut memudahkan seseorang mengambil keputusan seperti yang Ia tulis seperti ini,” iya pak. tidak ada pilihan buruk selama itu berbagi kebahagiaan dan kebaikan.” Banyak orang yang tidak berani mengambil keputusan karena merasa nyaman, takut belajar hal baru dan resiko dengan dalih Tuhan akan memberi yang terbaik namun tak berusaha dan berkata,”indah pada waktunya”.

Berbagi kebahagiaan dan kebaikan dengan menjadi relawan di dunia pendidikan dan lingkungan bagi orang yang memiliki paradigma memiliki di mana materi menjadi ukuran merupakan tindakan yang irasional dan aneh. Maka banyak orang yang berpikir aneh ketika sedikit orang melepaskan jabatan tingginya untuk menjadi relawan seperti dr. Jose Rizal (Mer-C), para pengajar Indonesia mengajar/kelas inspirasi dan relawan lainnya.

Padahal ketika mereka berbagi kebahagiaan dan kebaikan kepada orang lain di sana lah letak kebahagiaannya. Kebahagiaan kita tergantung kebahagiaan orang lain. Seperti ada orang yang bertanya kepada Rasulullah SAW saat hatinya keras. Rasulullah SAW menyuruh orang tersebut untuk membelai rambut anak yatim dan memberinya makan. Kemudian hati orang tersbut tenang dan damai. Begitu pula Imam Hasan Al Bashri menyatakan,” Aku bahagia jika orang lain mengerti apa-apa yang aku mengerti’

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s