Buta Informasi

Ketika ingin menulis artikel untuk jurnal ilmiah, saya mengumpulkan berbagai paper di internet untuk bahan referensi. Namun semakin banyak, saya mengunduh paper ilmiah yang relevan di internet , bukan semakin cepat selesainya paper saya, namun saya tidak jadi menulis paper ilmiah. Bahkan paper yang berhasil saya unduh hanya teronggok di folder tanpa dibaca.

Menurut Charles Duhig, penulis buku Smarter faster Better, saya mengalami buta informasi. Buta informasi adalah ketidakmampuan seseorang menyerap dan memaknai data/informasi yang dikumpulkan/tersedia. Seorang yang buta informasi seperti orang yang tidak dapat membedakan antara bukit dan pohon ketika hujan salju.

Di Era big data/data teknologi/ledakan informasi di mana data semakin menderas di smartphone banyak orang bingung menyerap dan memaknai data/informasi tersebut hingga terkadang kita menghapusnya atau tidak membacanya.

Kecenderungan buta informasi ini didukung oleh penelitian Universitas Columbia terhadap 800.000 responden terhadap program dana pensiun 401(k). Ketika responden diberi 2 pilihan dari dana pensiun 401(k), responden mudah memilih program yang menguntungkan program 401(k) tersebut. Namun, semakin banyak pilihan dari program dana pensiun 401(k), responden yang memilih semakin sedikit dan bahkan ada yang tidak memilih program 401 (k).

Kemudian, bagaimana menyikapi banyaknya muatan data/informasi yang mau atau tidak, kita menerimanya?

Dua anak saya merupakan contoh yang baik untuk menjawabnya. Putriku sama seperti saya, yakni buta informasi. Ketika di mall akan membeli pakaian, Ia berkeliling memilih banyak jenis pakaian yang tersedia. Hingga kaki cape karena keliling, Ia pulang tanpa membawa pakaian baru yang akan dibeli. Sedangkan anak lelakiku, setibanya di Mall tersebut langsung menuju ke pakaian yang diinginkan dan langsung membelinya, tanpa harus keliling mall. Mengapa putraku lebih cepat?

Ternyata, Ia telah memilih pakaian berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dengan memilah-milah spesifikasinya, misalnya baju hijau, lengan pendek, merk, harga dan ukuran tertentu. Artinya, pikirannya telah menyedikitkan jenis-jenis pakaian yang tersedia di mall menjadi sedikit pilihan seperti otak yang telah merancah ( scaffolding) bagian besar menjadi bagian-bagian kecil.

Akhirnya, agar jangan sampai data/informasi bersaerak di mana kita tak dapat menyerap dan memaknainya (buta informasi), Sebaiknya, kita jangan memperbanyak mengumpulkan muatan data/informasi, tetapi bagaimana kita memilah-milah muatan data/informasi yang relevan dengan skala prioritas menjadi sederhana dan kemudian kita dapat menyerap dan memaknai data/informasi tersebut hingga data/informasi tersebut dapat berbicara kepada kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s