Persepsi (Paradigma)

Ketika saya membroadcast tulisan, “Selesaikan Penyebabnya, Bukan Akibatnya”  ada tanggapan yang pro dan kontra. Pro dan kontra merupakan hal yang biasa karena sudut pandang (paradigma /persepsi) orang berbeda. Oleh karena itu, saya mengajarkan sudut pandang ini kepada peserta diklat untuk menghargai sudut pandang orang lain. Dan mempersilahkan mereka untuk berbeda pendapat dengan saya di kelas tanpa memberi nilai minus. Bahkan saya sangat menghargai perbedaan sudut pandang mereka.
Belajar persepsi akan membuka wawasan yang mendalam dan bijak dalam kita bersikap dan berperilaku terhadap orang lain. Mungkin kita pernah membaca cerita tentang seekor gajah dipegang oleh 6 orang buta. Orang buta pertama memegang belalai, dia bilang saya gajah itu mirip dengan seekor ulang, orang kedua memegang kakinya yang besar, orang ini bilang gajah itu seperti pohon, orang ketiga memegang ekor gajah, dia bilang gajah itu seperti seutas tali, orang keempat memegang punggung gajah yang lebar, dia bilang gajah itu seperti tembok, orang kelima memegang telinga gajah yang selalu bergerak, dia bilang gajah itu seperti kipas, orang keenam memegang gading gajah, dia bilang gajah itu adalah seperti tombak.
Kok bisa? Ya bisa karena mereka mengartikan gajah sesuai dengan yang mereka pegang dan mereka sama sekali tidak tahu gajah yang sebenarnya, hanya dari sudut pandang yang mereka tahu. Ceritanya akan bereda, bila 6 orang buta tersebut secara bergantian memegang organ tubuh gajah yang berbeda-beda tadi. Mereka akan mendapatkan pengalaman yang bermacam-macam dan dipastikan pendapatnya tidak seperti sebelumnya.
Begitu pula tentang broadcast saya, “Selesaikan Penyebabnya, Bukan Akibatnya” akan memunculkan persepsi yang pro dan kontra tergantung alinea mana yang kita fokuskan. Apakah alinea 1, 2,3 atau yang terakhir? Serta juga dilandasi oleh template yang dimiliki oleh pembaca, karena pemikiran seseorang dipengaruhi oleh kotak cara berpikirnya, di mana templatenya bisa berupa pandangan hidupnya, pengalaman-pengalaman yang dialaminya serta informasi-informasi yang diterima sebelumnya.
Jadi, jika ada orang lain yang tidak sependapat dengan broadcast saya,” Selesaikan Penyebabnya, Bukan Akibatnya” atau tulisan lainnya, saya menganggap itu adalah hal yang biasa. Bahkan saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang kontra/tidak sependapat  terhadap broadcast saya,” Selesaikan Penyebabnya, Bukan Akibatnya” karena dengan kontra tersebut kita dapat berkembang dan tumbuh dalam memahami perbedaan yang tak mungkin dapat dihilangkan dan akan berusaha tetap adil kepada siapapun.
Hal itu didasari oleh ajaran agama Islam untuk selalu berlaku adil dan juga akibat memahami kebiasaan Covey ke 5 yakni seek first to understand , then be understood (pahami orang lain dulu , baru mereka memahami Anda) yang merupakan kebiasaan yang sangat efektif untuk kita memahami sudut pandang/persepsi orang lain dalam memahami pluraitas pemikiran yang berkembang dan dinamis serta heterogen tanpa membenci satu sama lain. Dengan memahami keheterogenan/pluralitas yang dimiliki oleh negeri yang kita cintai ini, kita menjaga dan mengembangkan Indonesia yang saling menghargai satu sama lain tetap utuh, bermartabat dan berdaulat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s