Menjaga Ibu Pertiwi

Islam agama yang penuh kedamaian dan yang pertama kali yang mengajarkan penghargaan kepada agama lain. Hal itu diajarkan ketika Rasulullah SAW sebagai pemimpin di Madinah. Di Madinah juga ada penduduk Nasrani, Yahudi dan lainnya. Mereka yang bukan muslim dihargai menurut keyakinannya dalam wilayah privat. Penghargaan dan kedamaian itu selalu diikuti oleh Khalifah-Khalifah Islam selanjutnya di mana Islam menjadi negara adi daya yang disegani Persia dan Romawi.

Untuk membuktikan hal di atas, ada sebuah perbandingan di bawah ini yang dapat menjadi  pembelajaran. Pembelajaran ini bukan untuk membenci individu   Kristen atau bergama lainnya, karena harus dibedakan antara individu dengan pemimpin Kristen atau pemerintah yang dipimpin  oleh Kristen sebagai komunitas.

Karen Amstrong dalam bukunya Perang Suci menggambarkan, saat Salahudin dan pasukan Islam membebaskan Palestina
1.    Tak  ada satu orang Kristen pun yang dibunuh.
2.     Tak apa pula perampasan harta benda. ”Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah
3.    menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan akibat keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah.
4.     Keadilan dan kenegarawanan Salahudin pun membuat umat Nasrani yang tinggal di Yerusalem saat itu berdecak kagum.
5.     Seorang tua penganut Kristen pun bertanya kepada Salahudin. ”Kenapa tuan tidak bertindak balas terhadap musuh-musuhmu?”

Salahudin menjawab, ”Islam bukanlah agama pendendam bahkan sangat mencegah dari melakukan perkara diluar perikemanusiaan, Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf dan melupakan kekejaman musuh ketika berkuasa walaupun ketika musuh berkuasa, umat Islam ditindas.” Mendengar jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu. Ia pun kemudian berkata, ”Sungguh indah agama tuan! Maka diakhir hayatku ini, bagaimana untuk aku memeluk agamamu?” Salahudin pun berkata, ”Ucapkanlah dua kalimah syahadah.” Kemuliaan akhlak Salahudin juga tergambar dalam film Kingdom of Heaven besutan sutradara Ridley Scott, ketika dia mengangkat salib yang jatuh tergeletak di tanah dan menempatkan kembali pada tempatnya.

Sungguh sangat berbeda ketika 40 ribu tentara Perang Salib yang dipimpin Peter The Hermit menyerbu tanah suci Palestina, mereka datang dengan dirasuki fanatisme agama yang membabi buta. Guna membangkitkan rasa fanatisme itu, menurut Hallam penulis Barat,
1.    `setiap cara dan jalan ditempuh’. Tak peduli biadab atau tidak, semua ditebas remuk redam. Yerusalem banjir darah dan bangkai manusia.
2.     Suasana penuh dendam dan amarah, terjadi pula ketika pasukan Perang Salib tiba di Malleville. Kota itu pun dibumihanguskan.
3.     Tak kurang dari 7.000 penduduk tak berdosa di kota itu dibantai.
4.    Kemenangan tentara Salib itu dikotori dengan pembantaian terhadap kaum Muslimin yang sama sekali tak bersalah. Kekejaman tentara Salib itu digambarkan melebihi Jengis Khan dan Hulagu Khan ketika melibas kekhalifahan Abassiyah dan meruntuhkan Baghdad.
5.     Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak, dan kelemahan kaum perempuan tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu.
6.     Jhon Stuart Mill mengakui adanya pembataian massal penduduk Muslim ketika Kota Antioch jatuh ke tengan tentara Salib. Tak hanya itu, mereka pun menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk “Kutub Khanah” (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. ”
7.    Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga,””kata Stuart Mill.
8.     Ketika Raja Richard I dari Inggris merampas Kastil Acre, umat Islam juga dibantai. Begitu sadisnya, mayat-mayat mereka dan kepala-kepala terpenggal ditumpuk di bawah panggung. Pada tahun 1194, Richard Si Hati Singa – pahlawan dalam sejarah Inggris  juga memerintahkan untuk menghukum mati 3.000 umat Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak, secara tak berkeadilan di Kastil Acre.

Perbandingan di atas, juga dapat kita lihat pada saat penaklukan Andalusia oleh pasukan Islam, yang kemudian Andalusia di bawah naungan Islam selama 8 abad. Selama di bawah naungan Islam, dibiarkan agama non muslim beribadah sesuai keyakinannya dan tak ada pembersihan etnis.

Namun, setelah para raja Eropa bersatu padu menghancurkan Daulah Islamiyah di Andalusia dan menguasai Andalusia (Spanyol), maka terjadi inkuisisi (pembersihan etnis) yang tiada duanya, di mana seorang muslim tak ada sama sekali di Andalusia dengan 3 pilihan, yakni masuk Kristen, dibunuh dan diusir.

Bagaimana dengan kondisi sekarang di mana kaum muslimin tak memiliki perisai. Di mana kaum muslimin  mayoritas dan pemimpinya muslim, seperti Indonesia, maka kaum minoritas aman. Walaupun begitu, terkadang kaum minoritas tak tahu diri.

Mungkin kita masih ingat kasus Ambon. Saat kaum muslim minoritas di Ambon karena orang-orang Bugis pulang kampung, Komunitas Nasrani, memerangi kaum muslimin di sana.

Pada negara-negara di mana kaum muslim minoritas, juga terjadi pembantaian kepada kaum muslim, seperti pembantaian kaum muslim di Yunani, Bulgaria, Myanmar, India, Bosnia.

Semoga uraian di atas, dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan kesadaran untuk selalu memiliki ghiroh (semangat) dan shibgoh (celupan) dari Allah SWT sehingga ibu pertiwi yang kita cintai selalu mendapat barokah dari Allah SWT dan menjauhkan malapetaka yang terjadi di mana kaum muslim mayoritas namun dianiaya, dizholimi dan ditindas oleh  komunitas Kristiani yang minoritas. Indonesia adalah rumah kita yang didirikan dan dibangun oleh para syuhada, maka kita harus menjaganya karena Allah Ta’ala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s