Ujian Hidup

“ Filosofi bapak hebat. Ujian yang nyata itu ada dalam kehidupan ini ya pak.”, kata seorang doktor peserta diklat fungsional statistisi tingkat ahli ketika membonceng motor tuaku ke stasiun kereta api lenteng agung. Bagaimana, Ia bisa berkata seperti itu? Begini ceritanya,

Seperti biasa, dalam hal mengajar saya akan melakukan story telling berkaitan dengan mata diklat yang akan disampaikan yakni eksplorasi data. Seperti ditulis pada eksplorasi diri, story tellingnya adalah 1000 langkah dimulai dengan 1 langkah. Story telling ini disampaikan karena berkaitan dengan filosofi eksplorasi data dan sebagai motivasi peserta diklat.

Singkat cerita, di tengah-tengah diskusi yang menarik dengan peserta   bahwa,’ standar deviasi, koefisien variasi, indeks williamson, box plot walaupun sangat sederhana, akan menjadi tulisan yang sangat menarik bila kita dapat menghubungkan dengan tipologi klassen, analisis disparitas wilayah dan sebagainya. Dan  teman-teman bisa menerapkannya karena datanya tersedia di kabupaten dan dapat dihitung dengan excel seperti yang teman-teman kerjakan baru saja’ seorang peserta  bertanya,   ‘ Pak, bagaimana ujiannya?’

Insya Allah mudah. Saya akan memudahkan kalian. Ini kan ujian di  atas kertas. Yang penting itu ujian di kehidupan ini? Lulus atau tidak menghadapi ujian hidup ini? Nah itu yang lebih penting bagi kita semuanya. Ujian hidup itu bisa kenikmatan dan kepedihan. Biasanya, bila kita diuji Allah dengan kepedihan, kita akan mudah mendekatkan diri kepadaNya, seperti kita pergi ke masjid, gereja atau tempat ibadah lainnya. Namun, yang paling sulit bila Allah menguji kita dengan kenikmatan seperti berlimpahnya harta, jabatan tinggi, kepintaran dan kenikmatan lainnya, sehingga kita terlena, terbuai dan menganggap kenikmatan itu sebagai hak kita.

Kisah Tsalabah dapat menjadi pembelajaran bagi diri kita. Ketika kemiskinan menghimpit kehidupannya, Ia rajin sholat jama’ah bersama Rasulullah SAW.  Karena tak tak tahan akan kemiskinannya, Ia meminta Rasulullah SAW berdoa agar Ia dilimpahkan kekayaan oleh Allah SWT. Sesungguhnya Rasulullah SAW tak ingin berdoa untuk Tsalabah karena Beliau tahu akan gidaan harta sangat berat. Namun karena Tsalabah memohon untuk ketiga kalinya, akhirñya Rasulullah SAW berdoa kepada Allah SWT.
Kemudian Tsalabah memperoleh rezeki dan mebeli kambing. Ternaknya kemudian berkembang biak dengan cepat. Usahanya kian berkembang. Tsalabah mulai jarang kelihatan sholat berjamah bersama Rasulullah SAW. Setiap hari Ia sibuk mwngurus ternaknya. Madinah pun terasa sempit bagi ternaknya, akhirnya Ia pindah jauh dari Madinah dan sudah tidak pernah sholat jamah lagi. Tatkala Rasulullah SAW mengutus 2 orang amil zakat, Ia pun menolak memberikan karena merasa semua kekayaannya hasil dari jerih  payah dirinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s