Menjadi lebih baik

Apakah Senin ini lebih baik dari Minggu? Atau lebih baik dari Senin lalu? Orang menginginkan setiap hari ini lebih baik dari sebelumnya. Menjadi lebih baik, apakah itu keimanan dan kinerja/ output adalah yang diharapkan semua orang. Sudahkah kita menjalankan kaidah kausalitas, yakni sebab yang menghantarkan menjadi lebih baik?

Yang dapat menjawab adalah diri kita. Namun keimanan menjadi lebih baik, ada indikatornya, kurang lebih refleksi terhadap diri, seperti apakah ada getaran-getaran cinta yang cetar membahana ketika disebut namaNya? Atau namaNya hanya terdengar namun sirns bagai ditiup angin sepoi-sepoi dengan menyatakan,” Tuhan, maaf ya aku sedang sibuk. Nanti ya Tuhan. ,”

Atau masihkah kita – sadar atau tidak- menggoreskan noktah-noktah hitam di putihnya hati hingga menutupi kedekatan kita kepada Allah? Kita menggoreskan noktah-noktah hitam berupa kemaksiatan seperti membuat kuitansi bodong, merekayasa anggaran, menadatangani spj yang tak kita jalankan, menggunakan milik negara untuk pribadi atau keluarga dan kecurangan lainnya. Kecurangan itu, kita lakukan karena sudah dianggap hal yang ‘ benar ‘ seperti ungkapan sebuah kesalahan yang diopinikan beribu-ribu kali ‘ benar ‘ akan menjadi benar. Dan karena noktah-noktah hitam yang menyelimuti hati yang tadinya putih menjadikan kita menjauh dari Allah tanpa sadar.

Kedua. Kinerja. Setiap orang mengharapkan kinerja/ output kita menjadi lebih baik, namun banyak orang melakukan cara yang sama berulang-ulang untuk menyelesaikan masalah. Kata Einstein, itu namanya kegilaan. Saya pernah melakukannya dulu. Sekarang, juga masih melakukannya.

Kita memiliki ketrampilan-ketrampilan masa lalu untuk menyelesaikan masalah-masalah sekarang yang jauh berbeda. Padahal era sekarang merupakan data tehnologi yang berubah sangat cepat. Tanpa melakukan cara berbeda yakni selalu memperbaiki secara kontinu ( kreativitas ), maka ketrampilan yang dulu tidak akann dapat menyelesaikan masalah yang ada sekarang. Andaikan bertahan, itu nananya status quo ( kacau balau ) atau hidup segan mati tak mau. Ingatlah odol, kodak, Nokia, dan perusahaan lain yang dulunya fenomenal namun namanya sirna atau nyaris tak terdengar Mengapa?

Berpikir kreatif yakni melakukan cara berbeda dengan meningkatkan ketrampilan-ketrampilan baru yang terus menerus dengan selalu belajar tiada henti dan gigih yang ditunjang rasa ingin tahu akan menghasilkan kinerja/ output yang lebih baik. Jangan takut mengambil resiko dengan cara lama yang terlihat nyaman dan takut gagal karena ingin terlihat baik yang sebenarnya menuju kemunduran. Terlihat sibuk namun tak produktif.
Menjadi lebih baik harus lah selalu diupayakan dengan mendekatkan diri kepada Allah tanpa membiasakan maksiat yang akan menempelkan noktah- noktah hitam di hati yang memburamkan jendela hati menunjukkam mana yang baik dan benar. Menjadi lebih baik dari sisi kinerja juga harus melakukan cara berbeda yakni memperbaiki ketrampilan-ketrampilan baru terus dslsm menyelesaikan masalah yang ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s