Rendah Hati

Seorang bertanya,” Pak, mau nanya kalau memberikan pelatihan buat pejabat eselon 4/3 baru di lantik supaya tidak sombong, berpikir prakmatis, dll bgm solusinya….”

Rasa sombong muncul karena seorang memiliki kelebihan (harta, wajah, jabatan, pengetahuan, dsb). Kesombongan itu timbul karena bisikan keburukan yang sangat halus yang tanpa kita sadari masuk ke hati. Bila tak dikikis sombong kecil itu bagai bola salju yang membesar dan menjadi perilaku bahwa kita lebih pintar, lebih hebat, lebih baik, lebih … dari orang lain.

Rasa sombong ini juga muncul karena kita menggunakan sesuatu yang mahal (pakaian, sepatu, jam tangan, cincin, dll) yang tersamar oleh rasa percaya diri namun kita tak menyadari kecuali memiliki kepekaan hati dengan bermuhasabah dan berkontempelasi diri bertanya kepada hati.

Menurut penelitian psikologi, orang yang meningkat jabatannya tak berhubungan linier dengan kepedulian/empathy kepada bawahan sehingga para pemimpin lebih mementingkan diri sendiri dari pada bawahannya ketika mengambil kebijakan. Daniel Goleman, menyatakan pemimpin yang tak memiliki empathy memiliki kecerdasan emosi yang rendah karena empathy merupakan komponen pembentuk kecerdasan emosi.

Sejalan dengan pendapat Daniel Goleman, Carol Dweck menyatakan dalam bukunya, Mindset bahwa pejabat yang sombong dikategorikan memiliki pola pikir tetap (fixed mindset), karena ciri orang berpola pikir tetap adalah cenderung merasa lebih pintar/tinggi/hebat dari orang lain. Dweck, mencontohkan orang yang berpola pikir tetap seperti Henry Ford dan Lee Iacocca.

Melawan sifat sombong adalah dengan tidak sombong atau rendah hati yakni tidak merasa lebih baik dari orang lain. Ternyata sifat rendah hati dimiliki oleh pemimpin yang hebat. Hal itu didasarkan oleh penelitian Jim Collins selama 5 tahun terhadap para pemimpin dalam bukunya Good to Great. Penemuan Jim Collin ini membuat terperangah yang menyatakan bahwa pemimpin hebat adalah pemimpin yang rendah hati membuat terperangah banyak orang. Pemimpin hebat yang rendah hati, adalah para pemimpin yang tidak tidak suka menonjolkan diri di depan publik. Namun mereka memiliki paduan antara Julius Caesar dan Plato, yakni kemampuan memimpin yang luar biasa dan kerendahan hati. Jim Collins dan Maxwell menyebutnya dengan pemimpin level 5. Contohnya adalah Waren Buffet, orang terkaya ketiga di dunia namun mobilnya cadillac tua dan jika naik pesawat, kelas ekonomi. Pada masa sahabat Rasulullah SAW, kita mengenal pemimpin hebat dan rendah hati, seperti Abu Bakar Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Usman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra.

Rendah hati (tawaddu) merupakan sifat yang tidak merasa lebih dari orang lain. Sifat rendah hati merupakan lawan dari sifat sombong yang dimiliki oleh iblis yang merasa lebih mulia dari manusia karena tercipta dari api. Sifat rendah hati bukan lah sifat lemah, namun suatu kekuatan. Untuk menjadi rendah hati diawali dengan merubah pola pikir. Makanya dalam Reformasi Birokrasi (RB), area pertama yang dirubah adalah pola pikir. Untuk pejabat publik, yakni merubah penguasa menjadi pelayan, wewenang menjadi peran dan jabatan menjadi amanah. Merubah ketiga pola pikir itu akan menjadikan kita rendah hati yang didasarkan ketulusan dan kontempelasi diri bahwa kita sesunggunya hamba yang lemah dan bodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s