Mencari Kebahagiaan

“Apakah kalian ingin sukses?” Ya….
“Apakah kalian ingin ke luar negeri?” Ya….
“Apakah kalian ingin memiliki rumah bagus?” Ya…

Begitu lah kira-kira seorang motivator mengajak peserta untuk mencapai kebahagiaan. Begitu pula, sebagian besar orang di dunia ini mencari kebahagiaan sehingga berduyun-duyun berusaha keras dengan segala cara memiliki sesuatu.

Apakah setelah memiliki segalanya, seseorang akan bahagia? Ternyata tidak. Contohnya Elvis Presley, Raja Rock ‘n roll. Ia memiliki jutaan penggemar dan rumah bagai istana, namun hidupnya penuh nestapa dan merana. Sepi dalam keramaian. Penyanyi yang melegenda itu ‘merasa bahagia’ saat dalam keadaan sakau karena pengaruh narkoba.

Apa itu bahagia? Dan mengapa banyak orang mencari kebahagiaan? Bahagia adalah keadaan atau perasaan senang (bebas dari segala kesusahan). Banyak orang mencari kebahagiaan karena tanpa disadari kita terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran filsuf seperti Freud, Adler dan yang lainnya yang telah tertanam lama hingga kini yang menyatakan bahwa tujuan hidup itu untuk kesenangan atau kebahagiaan.

Oleh karena itu, bahagia adalah kata yang menyihir dalam kehidupan. Hati merindukannya. Akal mencitakannya. Bahagia bagai bayangan. Lari jika dicari. Hilang jika dihadang. Tak lelah kita mengejarnya namun bahagia tak pernah dijumpa.

Tentu saja kita akan selalu luput menikmati kebahagian ketika menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan dan cita dalam kehidupan. Karena sesungguhnya dalam kehidupan tidak ada kebahagiaan. Tak ada kebahagiaan?

Faktanya, dalam perjalanan kehidupan ada manis dan pahit, sukses dan gagal serta nikmat dan musibah (sesuatu yang menyusahkan). Artinya, kesenangan/nikmat dan musibah/kepedihan akan selalu bergulir bagai siang dan malam dalam kehidupan.

Oleh sebab itu, dalam perjalanan hidup yang penting adalah bagaimana kita memberi sikap atas nikmat dan musibah yang terjadi. Menyikapi suatu kejadian merupakan proses berpikir di antara ruang stimulus dan respon yang diistilahkan okeh Victor Frankl dengan memberi makna. Jika ada nikmat, kita harus bersyukur. Saat mendapat musibah (sesuatu yg tidak menyenangkan), kita harus bersabar. Karena keduanya merupakan kebaikan bagi kita bila kita mengetahuinya.

Akhirnya, dalam perjalanan hidup di dunia, sebaiknya kita tidak mencari kebahagiaan, namun mencari makna hidup. Makna hidup di dunia adalah ketika Allah meridhoi perbuatan kita apa pun konsekuensinya (nikmat atau musibah) yang akan menetap ketentraman di dalam hati (keberkahan). Keberkahan ini seharusnya menjadi momentum di tahun baru Islam agar kita berhijrah sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s