Paradigma Menang/menang

Kebanyakan orang cenderung memiliki cara pandang (paradigma) bahwa kehidupan ini sebagai arena persaingan (kompetitif). Hal ini mungkin akibat pendidikan yang telah tertanam lama sejak dini. Pendidikan kita mengajarkan untuk bersaing satu sama lain agar memperoleh nilai yang sangat tinggi. Maka hal yang wajar, orang tua selalu menanyakan ranking berapa anaknya di sekolah kepada wali kelas anaknya. Dengan ranking tersebut kita membandingkan anak kita dengan anak-anak lainnya. Karena pendidikan tersebut berlangsung lama, sehingga menjadi budaya dan sebuah kebiasaan cara kita memandang kehidupan bahwa hidup adalah persaingan. Dengan demikian, kita sering mendikotomikan kuat dan lemah, keras dan lunak, menang dan kalah. Cara berpikir ini pada dasarnya cacat. Cara pandang ini didasarkan pada pemikiran Lord Acton yang berpusat pada prinsip kekuasaan dan posisi. Sehingga kita cenderung menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan tanpa memiliki tenggang rasa kepada calon yang lain.

Cara pandang Menang/Kalah merupakan gaya kepemimpinan yang otoriter. Saya mendapatkan apa yang saya inginkan, dengan mengalahkan calon lainnya dengan berkata, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Cara pandang Menang/Kalah akan berdampak perselisihan yang tak pernah padam karena calon lain merasa dikalahkan dan disakiti sehingga tak akan mendukung kekuasaan yang dipimpin oleh pemenang.

Cara pandang Menang/Kalah sudah mengkristal dalam pola pikir (mindset) masyarakat umum karena pendidikan kita mengajarkan arena persaingan. Sehingga dalam budaya Menang/Kalah, pihak yang menang akan mendahulukan kelompoknya
dengan menyisihkan kelompok yang dikalahkan. Perselisihan ini bagaikan lingkaran setan yang tak berujung.

Untuk kepentingan rakyat semuanya, sebaiknya cara pandang Menang/Kalah diganti dengan cara pandang Menang/Menang. Cara pandang Menang/menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama dalam hubungan sesama. Kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok/pribadi. Berpikir Menang/Menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbal balik. Dengan solusi Menang/Menang semua pihak merasa senang karena prinsip Menang/Menang didasarkan pada paradigma bahwa ada banyak untuk semua orang. Cara pandang Menang/Menang merupakan keberhasilan satu orang tidak dicapai dengan mengorbankan atau menyingkirkan keberhasilan orang lain.

Sehingga pihak yang ‘kalah’ akan menerima dengan lapang dada karena pilkada bukan sebuah arena persaingan namun arena kolaborasi, kerja sama dan saling mendukung. Bahkan pihak “kalah’ akan mendukung pemerintahan pihak yang menang karena semuanya dlandaskan pada kepentingan rakyat secara keseluruhan. Ia tidak melihat lagi kelompoknya, namun tujuan Nasional yakni tercapainya masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Menerima dengan lapang dada ‘kekalahan’ bukan sebuah aib atau cela, bahka kematangan dalam berperilaku yakni memiliki keseimbangan antara keberanian dan tenggang rasa untuk kemajuan Negara Indonesia yang kita cintai. Dengan paradigma menang/Menang, setiap peserta pilkada akan siap ‘kalah’ karena inilah jalan yang lebih baik untuk rakyat.

Sumber: Mohammad Irkham, Buletin Bawaslu, Edisi Januari-Februari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s