3 Dimensi Keshalihan

Perilaku korupsi tidak berubah. Begitulah headline berita media nasional terkait penangkapan ketua DPD RI (terlepas benar atau tidaknya kasus tersebut nantinya).
Membaca berita atau melihat pemberitaan di media cetak, tv dan media sosial tentu lah sangat miris. Namun sesungguhnya, masih banyak rakyat/pegawai, pemimpin/pejabat publik yang jujur, tidak korupsi dan menginginkan Indonesia Bersih (Haryatmoko, 2015). Cilakanya, menurut Hukum Pareto 80/20, 20 persen pemimpin dari 100 pemimpin yang ada yang mewarnai keburukan-keburukan negeri yang kita cintai ini oleh media massa dibandingkan kebaikan-kebaikan yang ada sehingga negeri ini ‘sakit’. Dan itu lah yang ditengarai oleh Erich Fromm, bila sebagian kecil pemimpin mempunyai orientasi kehidupan memiliki dampaknya sebuah bangsa akan rusak.
Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, Haryatmoko menawarkan 3 Dimensi Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi yakni tujuan etika publik, infrastruktur etika dan tindakan agar rakyat sejahtera yang diadopsi dari Etika Politik karya B. Sutor. Sedangkan saya menawarkan 3 dimensi keshalian.
Tiga dimensi keshalihan yaitu, keshalihan individu, keshalihan sosial dan keshalihan negara. Keshalihan individu adalah individu-individu yang memiliki nilai-nilai mulia dan menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai pedoman hidupnya. Individu-individu tersebut dapat menjadikan nilai-nilai tersebjt sebagai evaluasi dalam menimbang setiap keputusan yang akan dipilihnya.
Kemudian, individu-individu yang telah mengalahkan dirinya karena memiliki orientasi kehidupan yang bermakna memimirkan orang banyak akan mengelompok menjadi masyarakat yang disebut dengan keshalihan sosial. Keshalilah sosial ini merupakan kontrol masyarkat terhadap keburukan-keburukan yang dilakukan individu atau pemerntah dengan menasehati dalam kebaikan.
Keshalihan sosial ibarat kelompok orang yang naik kapal yang terdirii dari orang yang naik di lantai bawah dan orang di lantai kedua. Jika orang-orang di lantai dasar akan mengambil air dengan membolongi kayu, maka sekelompok orang yang memiki keshalihan sosial akan memperingati dan mencegah orang yang akan membolongi agar semua orang selamat.
Ketiga, keshalihan negara. Negara yang dipimpin orang-orang yang shalih akan menerapkan hukum yang memaksa setiap individu untuk melakukan kebakkan-kebaikan sehingga perilaku baik akan menjadi budaya.Jika ada individu atau sekelompok orang berbuat buruk, maka negara akan menghukumnya sebagai efek jera dan hukum berlaku sama kepada setiap orang.
3 dimensi keshalihan di atas bukan lah utopia karena Jepang telah menerapkaniĀ  nilai-nilai mulia menjadi pedoman hidupnya. Begitu juga masyarakat Madinah 14 abad lalu. Insya Allah kita yang menginginkan Indonesia Bersih dapat melakukannya secara sinergi, koordinasi dan kolaborasi mengisi alam kemerdekaan hingga kita berdaulat menuju Indonesia bermartabat. Mungkin Indonesia bermartabat, tidak terjadi pada zaman kita karena membangunnya perlu proses yang sangat lama. Bukan hasil yang dinilai oleh Allah, tetapi usaha kita melakukan-kebaikan lah yang akan abadi dan menjadi bekal kita nanti.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s