Mendekatlah kepada Allah SWT

Banyak pelajaran dari kisah Bapak para Nabi yakni Nabi Ibrahim as. Salah satunya kisah pembicaraan Nabi Ibrahim as dan anak yang dicintainya Nabi Ismail as yang kenal dengan Idul Adha/Qurban.
Untuk menarik pelajaran Idul Adha/Qurban, sebaiknya tidak melihat hanya obrolan antara Nabi Ibrahim as (ayah) dan Nabi Ismail as (anak), namun harus melihat keseluruhan proses hingga diperoleh gambaran yang utuh.
Nabi Ismail as adalah putra yang lama diidam-idamkan dan melalui proses yang sangat berat atas kehendak Allah SWT. Ketika masih bayi, Nabi Ibrahim as harus meninggalkannya Nabi Ismail as bersama Ibunya di tanah yang tak ada airnya atas perintah Allah SWT.
Singkat cerita, terjadilah perbicangan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as yang kemudian dikenal dengan peristiwa penyembelihan hewan qurban. Dan kisah tersebut merupakan salah satu kisah di Al Qur’an yang kemudian menjadi hukum syara’ bagi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Apa pelajarannya? Banyak sekali. Pertama, cinta yang paling tinggi hanyalah kepada Allah SWT. Ketika kecintaan tertinggi kita hanya kepada Allah SWT, maka kita akan selalu menjalankan segala perintahNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya. Nilai halal dan haram menjadi kompas seseorang menapak kehidupannya. Sifat terpuji dan tercela akan menjadi petunjuk mana yang benar dan salah.
Kedua, Sebaiknya Orientasi kehidupan kita bukanlah memiliki karena semua di dunia ini bukan milik kita tetapi semuanya adalah amanah dari Allah SWT. Karena amanah, maka ketika si pemilik sebenarNya mengambil apa-apa Miliknya, kita harus ikhlas melepaskan. Oleh karena itu, jabatan, harta, anak, istri/suami, bapak/ibu sesungguhnya pasti kembali kepada pemilikya.
Ikhlas di sini bukan berarti tidak berat hati melepaskannya karena amalan berat hati dengan ikhlas akan mendapat timbangan/pahala besar dari Allah SWT. Nabi Ibrahim as, sangat berat hati melakukan perintah Allah SWT tersebut namun ikhlas.
Agar pelajaran tersebut mengkristal dalam diri dan berubah menjadi perilaku sehari-hari, tentu melalui proses, yakni untuk diri selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak hanya ibadah mahdah (sholat, shaum, haji) saja, namun yang lebih penting setelah ibadah mahdoh tersebut karena hakikat ibadah mahdoh agar kita terhindar dari perbuatan tercela setelahnya. Mungkin waktu kita lebih banyak dalam bekerja, maka dalam bekerja juga harus lebih intens mendekatkan diri kepada Allah SWT karena sesungguhnya godaan-godaan keburukan ada saat kita bekerja. Mendekatlah kepada Allah SWT (Taqqarrub Ilallah) agar kita terhindar dari perbuatan tercela.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s