Values dan Rezeki

“Apakah orang yang memiliki nilai-nilai mulia (values) seperti jujur, amanah, integritas, adil, dan nilai mulia lainnya menjadi miskin?”

Mungkin iya, mungkin tidak. Iya, jika orang tersebut hanya memiliki values saja.  Tidak, jika Ia memiliki juga kompetensi teknis/keahlian tinggi pada bidang tertentu.
Banyak fakta membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki values dan keahlian tertentu memperoleh rezeki yang berlimpah dari Allah. Contohnya, 6 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga adalah saudagar/konglomerat. Pada masa kini, Waren Bufet, salah satu orang terkaya dunia merupakan orang yang diakui memiiki integritas sangat tinggi hingga banyak orang mempercayainya. Ada pula pejabat yang memiliki values yang selalu dikenang hingga kini sepeti Bung Hatta, Bapak Baharudin Lopa, Bapak Hoegeng, Bapak Natsir, Buya Hamka dan pejabat lainnya.
Sesungguhnya rezeki itu telah tertulis di lauhul mahfudz yang telah ditetapkan Sang Pemberi rezeki yakni Allah dan tidak ada seorang pun yang tahu. Kita, sebagai manusia dianjurkan untuk menjemput rezeki tersebut dengan  keahlian tertentu dan cara yang benar agar menjadi lapis-lapis keberkahan bagi diri dan lingkungan sekitar.
Melakukan hal yang benar tidaklah mudah di tengah-tengah hal yang salah menjadi kebiasaan yang dianggap ‘benar’. Perlu tekad yang kuat dan kekonsistenan dengan do’a dan bersandar kepada Allah serta keyakinan bahwa rezeki tak akan ke mana bila kita telah bersungguh-sungguh berusaha meraihnya (man jadda wa jadda).
Sebenarnya secara fitrah, manusia menginginkan hal-hal kebaikan, namun keyakinan dan fitrah baik itu tergerus dan tergerogoti oleh keadaan yang ‘memaksa’ kita melakukan kecurangan-kecurangan disebabkan hiruk pikuknya materialisme dan hedonisme yang berdampak pada perceived pressure (gaya hidup, tekanan atasan), rationalitas (dalih pembenaran bahwa orang lain juga melakukan kecurangan) dan ada kesempatan hingga kita tak merasa bersalah atas pembiaran kecurangan-kecurangan kecil di tengah-tengah kita. Pembiaran kecurangan-kecurangan kecil itulah yang menyebabkan kecurangan besar hingga berdampak pada kondisi negeri tanpa kita sadari.
Tak ada kata terlambat dan selalu optimisme bahwa untuk mencegahnya, kita harus mulai dari diri menanamkan values dan meningkatkan kompetensi teknis/keahlian bidang tertentu agar rezeki yang mengaliri tubuh diri dan anak-anak kita adalah rezeki yang baik. Dengan values dan kompetensi teknis, negeri yang kita cintai ini akan menjadi Indonesia Bersih dan bermartabat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s