Enggan Melepaskan

Seorang tetangga memiliki motor RX King yang sangat jarang dipakai dan teronggok di depan rumahnya. Orang lain menawar motor tersebut seharga Rp. 15 juta, namun tetangga meminta harga Rp. 20 juta. Akhirnya tidak terjadi kesepakatan.
Beberapa bulan kemudian, tetangga tersebut menyadari dan menyesali, mengapa tidak menjual motornya seharga Rp. 15 juta yang sekarang masih teronggok di depan rumahnya dan sangat jarang dipakai tersebut. Mengapa Ia tidak menjualnya waktu itu?
Tampaknya irasional. Secara ekonomis motor tersebut tak bernilai karena sudah aus tersusut dan pasti harganya sudah sangat rendah dan tidak dimanfaatkan lagi pula. Mungkin Ia berpikir sentimentil bahwa motor tersebut barang antik sehingga permintaan harganya irasional.
Selain irasional, ternyata ada sisi lain yang menentukan hingga Ia meminta harga tinggi yakni rasa memiliki. Rasa memiliki sesuatu meganggap sesuatu itu berharga hingga enggan melepaskan. Rasa memiliki juga berdampak kita lebih baik mengumpulkan daripada membuangnya. Hal ini menjelaskan mengapa kita mengumpulkan barang-barang yang sudah tidak digunakan di dalam rumah.
Erich Fromm penulis terkenal dalam bukunya To Have and To Be mengkategorikan manusia menjadi 2 yakni orientasi memiliki dan orientasi menjadi. Orientasi memiliki merupakan wujud dari rasa memiliki adalah memperlakukan segala sesuatu seperti benda (materi) dan ingin menguasainya.
Orientasi memiliki merupakan penyakit mental yang tidak sehat yang sering menimbulkan krisis. Jika itu terjadi pada para pemimpin, maka krisis yang ditimbulkan akan meluas dan mencakup banyak dimensi, seperti kemiskinan, vaksin palsu, dsb.
Orang yang berorientasi memiliki jumlahnya cenderung sangat besar apalagi dalam dunia materialisme kini. Seseorang menilai keberadaan dan kebahagiaan dirinya dan orang lain berdasarkan pada materi (harta, jabatan) yang dimilikinya sehingga mereka akan berlomba-lomba untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara, seperti menyalahgunakan wewenang, memark up anggaran, korupsi, curang (fraud), dsb.
Pada institusi pemerintahan, orientasi memiliki dapat dilihat pada pemberian fasilitas negara seperti mobil, laptop, jabatan dan anggaran yang diperuntukkan operasional dalam rangka mencapai pelayanan publik prima. Namun dengan orientasi memiliki kita menganggap bahwa fasilitas negara tersebut adalah milik pribadi hingga enggan melepaskannya.
Orientasi memliki yang membuat kita enggan melepaskan tak akan pernah membuat bahagia dan tidak sehat karena implikasinya kita mencari kebahagiaan dengan mengorbankan orang lain dan tak sesuai dengan kodrat manusia seperti termaktub dalam kalimat,”inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Carilah kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain. Carilah kesenangan dengan menyenangkan orang lain lain sehingga kita mudah melepaskan yang memang sesungguhnya hanya milik Allah semata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s