Mudah Mengatakan, Sulit Menerapkan

Saya juga berbagi ilmu nilai-nilai mulia kepada istri dan anak-anakku agar mereka memahami mana yang baik dan buruk serta mendukung yang saya lakukan demi kenikmatan yang lebih besar di akhirat.
Suatu hari, saya diamanahkan untuk belajar studi banding (benchmarking) inovasi dengan cara mendampingi dan melihat bagaimana widyaiswara berpengalaman membimbing peserta diklat selama 5 hari dari Selasa-Sabtu dengan menginap di Hotel, kota Bandung.
Bersamaan dengan kegiatan benchmarking, istri menemani putriku yang liburan menginap di kost keponakan selama 3 hari dari Kamis-Sabtu.
Kegiatan bencmarking selesai sebelum Jum’at dan beberapa peserta pulang lebih dulu setelah sholat Jum’at sehingga ada beberaa kamar kosong yang dapat dimanfaatkan untuk keluarga. Maka saya menelpon istri untuk memanfaatkan kamar yang sudah dibayar melalui anggaran negara.
“Ayah, bukankah ayah telah mengajarkan kepada Bunda untuk tidak menggunakan fasilitas negara. Bunda tidak mau”, kata istri. Tentu saja saya kaget dan bersyukur telah diingatkan istri tentang konflik kepentingan dalam penggunaan sumber daya lembaga (SDL) tersebut.
“Ternyata, mudah mengatakan namun sulit menerapkan”, batinku sambil bersyukur yang akhirnya saya pergi ke Jatinangor dan menginap di wisma.
Ada pula masalah konflik kepentingan penggunaan SDL yang terlihat sepele seperti diceritakan teman SMA yang bekerja di swasta (saya juga menerapkannya) sbb:
“Iya saya mulai melatih anak utk memisahkan mana yg hak kita dan mana yg bukan, misal aku di kantor kan sering dapat alat2 tulis. Dulu kalau alat2 tulis di laci aku kebanyakan sering aku bawa pulang.  Tetapi sekarang aku tdk pernah bawa pulang lagi. Untuk anak2 aku belikan sendiri alat2 tulis itu dari hasil gaji yg kita terima. Anak2 sering tanya papa dulu sering bawa pulpen dari kantor koq sekarang ga pernah bawa lagi.  Aku bilang itu bukan hak kita tapi hak kantor jadi kita ga boleh bawa pulang….. Begitu pula, dulu kalau ada kebutuhan pribadi saya sering pakai telp kantor, tapi sekarang saya pakai hp saya sendiri. Kalau saya telp istri pakai telpon kantor istri akan marah dan minta ditelpon pakai hp aja…karena itu juga merupakan korupsi kecil2an kata istri. Insya Allah kalau kita mulai dari yg kecil2 nanti yang besar tidak akan berat untuk meninggalkannya…..Amin dan mudah2 kita bisa menjadi contoh utk anak2 kita dikemudian hari.”
——————————————————
Mohon maaf lahir & bathin kepanjangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s