Values dan Bad Culture

Values adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga kita menjunjung dan memegang teguh sesuatu tersebut. Dalam kehidupan pribadi, kita harus mengetahui dengan jelas apa yang paling penting dalam hidup ini dan akan memutuskan akan hidup berdasarkan nilai-nilai ini, apa pun yang terjadi. Nilai-nilai ini sangat penting, oleh karena itu diklat prajabatan calon pegawai negeri sipil (CPNS) pola baru adalah menginternalisasikan nilai-nila ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi) dan mengaktualisasikannya dalam perilaku sehari-hari.
Pemikiran prajabatan pola baru yang digagas LAN RI tersebut berdasarkan bahwa selama ini PNS -tidak semuanya- memiliki budaya buruk seperti korupsi, memark up anggaran, malas, tidak berkompeten, curang, mempersulit yang mudah, tidak efektif, tidak efesien, tidak berlualitas dan keburukan lainnya.
Semua mengetahui bahwa korupsi itu buruk dan kita akan mencela para koruptor yang tertangkap oleh pihak berwenang di media tv/massa. Namun, tanpa  disadari bahwa kita juga melakukan korupsi dengan nilai kecil. Karena nilainya kecil, kita menganggapnya biasa dengan sejuta dalih untuk membenarkan perilaku buruk itu. Pembiaran pelanggaran kecil tersebut akan berdampak pada pelanggaran-pelanggaran besar. Contohnya, adalah kita biasa membuat kuitansi bodong agar sesuai dengan anggaran yang ada. Misal, rapat yang konsumsinya di anggaran sebesar Rp. 60.000,-. Tetapi, kenyataanya kita hanya menghabiskan konsumsi sebesar Rp. 30.000,-. Supaya sesuai dengan anggaran, dicarilah kuitansi bodong sebesar Rp. 30.000,-.
Budaya buruk tersebut bisa kita minimalisir atau hilangkan -tentu saja melalui proses- dengan memiliki nilai-nilai mulia (core values) yang menjadi pedoman hidup kita. Karena perilaku kita merupakan transformasi dari nilai-nilai (value –>  attitude –> behaviour). Nilai-nilai bagai akar pohon yang menghujam di dalam hati dan pembeda mana yang baik dan buruk sehingga merindangi lingkungan sekitar.
Penulis bukan orang yang suci dan sempurna dari khilaf dan debu-debu maksiat, namun ada harapan dan optimisme bahwa bangsa yang kita cintai bisa lebih baik dan bermartabat dengan menanamkan nilai-nilai luhur dalam jiwa kita masing-masing. Perlu proses yang sangat panjang dan bukan untuk kita. Nilai-nilai luhur akan menenangkan hati dan menyejukkan jiwa. Jangan lelah untuk berperilaku baik yang dilandasi nilai-nilai luhur sebagai bekal kita di akhirat nanti. Lelah bisa sirna dengan beristirahat, sedangkan kebaikan akan abadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s