Sedikit Mencukupi, Banyak Melalaikan

Namanya Mas Aji dengan 1 istri dan 3 anak. Pekerjaannya guru honorer. Lelaki ini memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan, antusias, murah senyum dan rajin bersedekah.
Secara matematik, gajinya tidak mencukupi untuk kehidupan selama sebulan apalagi dengan rajin sedekah sehingga seorang teman bertanya keheranan, ‘Bagaimana Ia mencukupi kebutuhan keluarganya?”
Lelaki yang memiliki kumis tipis ini menjawab dengan tenang, masalah rizqi kita harus berpikir di luar matematik (dengan otak kanan), karena apa-apa yang kita sedekahkan tak pernah hilang. Terbukti, dengan izin Allah SWT, saya dapat mencukupi kebutuhan keluarga saya tanpa berhutang.
Menoleh 14 abad yang lalu sebagai ibrah. Tsa’labah namanya. Ketika sangat miskin, Ia rajin beribadah bersama Rasulullah SAW di masjid.
Dengan do’a Rasulullah SAW -karena permintaan yang ke 3- dan pemberian 1 kambing, maka kambing tersebut beranak pinak memenuhi lembah dan bukit di Madinah. Dan Tsa’labah menjadi orang yang berlimpah materi.
Berlimpahnya materi yang dikaruniakan dari Sang Pemberi rizqi menjadikan Tsa’labah melalaikan ibadah yang wajib karena disibukkan menghitung kekayaannya. Ia pun hanya melakukan sholat sekali dalam seminggu yakni sholat Jum’at.
Hingga Rasulullah SAW menanyakan keberadaan Tsa’labah karena telah lama tak terlihat di Masjid. Ketika Rasulullah SAW tahu bahwa Tsa’labah kaya dan bersamaan turunya perintah zakat, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengambil zakat dari harta.
Tsa’labah menolak zakat tersebut -untuk kedua kalinya- karena menganggapnya sebagai upeti. Hingga turun firman Allah SWT yang menolak zakat dari Tsa’labah. Hingga Rasulullah SAW wafat dan diteruskan Khalifah sesudahnya, zakat dari harta Tsa’labah ditolak.
Walaupun berlimpah materi, Tsa’labah hidup nestapa dan merana karena Allah SWT tak meridhai harta Tsa’labah. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah SAW, banyaknya harta akan melalaikan manusia untuk beribadah kepada Allah SWT.
Sedikit mencukupi lebih baik daripada banyak melalaikan. Sesungguhnya, bukan sedikit dan banyaknya riqzki yang jadi persoalan, namun apakah Allah SWT meridhoi harta yang kita miliki? Yakni harta yang barokah. Dan semuanya tergantung cara pandang kita terhadap rizqi sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
————————————–
Maaf tulisannya panjang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s