Memudahkan yang Sulit

Rumus relativitas E  = mc2 berasal dari notasi notasi yang sangat  panjang dan sangat sulit, namun Einstein memudahkannya untuk kita dengan rumus tersebut. Begitu pula para ahli yang telah merumuskan formula-formula tertentu juga merupakan turunan dari notasi-notasi panjang dan sulit. Mereka yang dapat memudahkan sesuatu yang sulit disebut dengan ahli ( expert).
Menyederhankan sesuatu yang sulit tidak lah mudah. Lebih mudah mempersulit sesuatu yang tadinya mudah. Misalnya,  Ada sebagian orang, agar ingin terlihat pintar, menyampaikan sesuatu menggunakan bahasa langit (sangat sulit dimengerti) kepada orang lain – baik disadari ataupun tidak- untuk menunjukkan bahwa  Ia lebih tahu dari orang lain. Padahal orang tersebut sesungguhnya bukanlah orang yang ahli tentang apa-apa yang dikatakannya.
Memudahkan sesuatu yang sulit dibutuhkan berpikir kreatif. Berpikir kreatif memang sangat diperlukan pada era yang sangat dinamis dan data tehnologi sekarang untuk menyelesaikan masalah yang merupakan tantangan bagi bertumbuhnya diri/organisasi.
Dalam berpikir kreatif saya memiliki istilah tersendiri yakni flexible thinking on the box. Istilah ini saya ambil untuk mengkrompomikan antara berpikir out of the box dan new thinking inside in the box. Saya memahami bahwa pola berpikir kreatif seseorang tidak dapat dilepaskan dari template (kotaknya) yakni pandangan hidupnya, pengalaman-pengalaman yang dialaminya dan informasi yang diperoleh sebelumnya. Dan di sisi lain, berpikir kita juga dapat berdiri objektif di luar template (kotak) diri untuk menyelesaikan masalah yang ada dengan mengadopsi dan memodifikasi yang berasal dari luar.
Contoh berpikir kreatif yakni memudahkan yang sulit adalah mengintegrasikan kegiatan-kegiatan yang terlihat banyak menjadi sedikit namun dengan kualitas yang lebih baik ( better), lebih murah ( cheaper) dan lebih cepat ( faster). Banyaknya kegiatan memang terlihat sibuk, namun tidak berarti produktif dan berkualitas. Banyaknya kegiatan juga terkadang menunjukkan bahwa kita tidak memiliki skala prioritas.
Hal ini dicontohkan oleh Tim Ferris (Penulis Four Hour Weeks) dan Duane (Manajer Teknik Google) setelah mengetahui prioritas utamanya, mereka mengurangi jam kerjanya empat hari seminggu namun memperoleh lebih banyak pencapaian. Dengan waktu yang tersisa, mereka dapat memiliki waktu berkualitas untuk berpikir kreatif kembali dalam mengembangan diri/lembaganya.
Memudahkan yang sulit akan bermanfaat untuk peningkatan pencapaian/kinerja diri/organisasi agar kita dapat bertumbuh dan keseimbangan hidup. Dan kuncinya adalah berpikir kreatif yang fleksibel ( flexible thinking on the box)

——————————–

Jika tulisan di atas tidak dimengerti, memang saya masih bodoh dan sedang  belajar. Terima kasih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s