Generalize Mindset

Jika Carol Dweck punya istilah Fixed and Growth Mindset, saya punya istilah generalize mindset. Apa yang dimaksud dengan generalize mindset mwnurut saya? Saya akan memberikan beberapa contoh di bawah ini.
Mengapa ada orang yang protes ujian nasional (UN)? Karena kelulusan siswa ditentukan oleh UN yang waktunya hanya 3 hari dengan pelajaran tertentu. Artinya, kelulusan seorang siswa yang menjalani pendidikan selama 6/3/3 tahun ditentukan oleh 3 hari UN. Pola pikir ini saya sebut dengan generalize mindset.
Saya teringat perkataan seorang pendidik yang saya kagumi yakni Almarhum Profesor Bapak Andi Hakim Nasution yang kurang lebih menyatakan, “sebetulnya tidak perlu ada ujian bagi mahasiswa/siswa karena pendidik dalam periode tertentu mengetahui sikap, perilaku dan kemampuan para siswa didiknya.”
Generalize mindset juga terkadang digunakan oleh pimpinan/orang tua menilai bawahan/anaknya. Misalnya, karena bawahan/anak memiliki kesalahan/nilai jelek, maka pimpinan/orang tua menilai bawahan/anak memiliki kemampuan yang rendah, sehingga pimpinan/orang tua menganggap.bahwa bawahan/anak tersebut tidak memiliki kemampuan. Padahal setiap orang dapat tumbuh/berkembang.  Faktanya adalah  Einstein dan Thomas A Edison yang dianggap bodoh oleh gurunya, namun dengan berjalan waktu, kita melihat karya mereka yang spektakuler.
Ternyata, generalize mindset ini digunakan pula oleh media tv tertentu untuk memberi stigma negatif kepada aksi bela Islam ( ABI ) kedua yang berlangsung pada 4-11 tahun 2016. Saya mengamati keanehan media tv tertentu yang menayangkan kerusuhan pada jam 19.00 wib ke atas dan lokasi tertentu yang dilakukan oleh sebagian pendemo berpakaian bukan putih-putih dengan bahasa reporter seolah-olah terjadi kerusuhan. Dengan generalize mindset tersebut media tv tertentu ingin menggiring opini ke pemirsa bahwa ABI ke 2 berjalan rusuh.
Menggunakan generalize mindset untuk menyimpulkan secara umum demo ABI II berdasarkan satu titik tertentu adalah cara yang tidak objektik dan keliru. Bagaimana mungkin, kita menyimpulkan bahwa demo ABI II yang berjalan dari pagi hari atau setelah sholat Jum’at dikatakan rusuh hanya berdasarkan suatu peristiwa pada jam 19.00 wib, lokasi berbeda dan belum diketahui perusuh yang sebenarnya tanpa melihat secara keseluruhan demo ABI II.
Melihat secara keseluruhan suatu peristiwa yakni demo ABI II atau peristiwa lainnya, kemudian menyimpulkan peristiwa/ABI II berdasarkan keseluruhan peristiwa tersebut lebih objektif dan tidak bias. Keobjektifan ini tentu ditunjang dengan hati yang bersih dan tenang serta  pikiran mendalam dan cemerlang.
Pemikiran mendalam dan cemerlang ini akan memfilterisasi provokasi berita yang menderas hingga tidak melakukan tindakan kekerasan yang akan menodai demo ABI II yang dilakukan dengan niat yang tulus untuk membela kitab suci Al Quran yang akan menjadi syafaat nanti di yaumil akhir dan menunggu dengan sabar pihak berwenang menjalankan tugasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s