Materialisme dan Spiritualisme

Sering kali ada komentar terhadap demo seperti ini,”untuk apa demo? Dibayar berapa mereka? Efektif kah demo tersebut? Cape deh (sambil nepuk jidat).
Pendapat di atas merupakan hal yang lumrah terjadi karena banyak fakta menggambarkan seperti itu sehingga banyak orang menyamaratakan bahwa semua demo seperti itu. Pola pikir generalisasi (menyamaratakan) dan fakta dijadikan hukum digunakan untuk menyimpulkan suatu peristiwa.
Ada pula peran pemikiran yang dominan mempengaruhi pendapat di atas -tanpa disadari atau tidak- yakni pemikiran materialisme yang hampir menjadi mainstream pemikiran dunia yang dihembuskan oleh Freud dan Adler yang menggantikan three Greek yakni Socrates, Plato dan Aristoteles. Freud dan Adler memiliki pemikiran yang anti agama (spiritualitas). Freud menyatakan bahwa tujuan hidup itu untuk kesenangan. Sedangkan Adler menyatakan bahwa tujuan hidup itu kekuasaan. Substansi pemikiran keduanya adalah materialisme yang makna segalanya diukur dengan materi.
Namun kedua pemikiran tersebut keliru karena menghilangkan potensi yang melekat pada diri manusia pada saat diciptakan Allah yakni naluri beragama. Naluri beragama merupakam kebutuhan manusia yang lemah kepada Tuhannya.
Kekeliruan pemikiran materialisme juga dibantah oleh Viktor Frankl dalam bukunya man searching of meaning dengan logotherapinya. Logo berarti makna atau spiritulitas menurut Frankl. Tujuan hidup manusia adalah spiritulitas yang menurutnya sesuatu pemikiran yang terkadang tak dapat dipahami (beyond) oleh manusia. Saya mencontohkan, kaum muslimin yang melakukan aksi demo damai kemarin, dengan biaya sendiri dan berasal dari Aceh, Lombok dan tempat jauh lainnya akan sulit dicerna bagi mereka yang berpikir materi.
Sedangkan bagi mereka yang berdemo, spiritualisme yang menggerakkan mereka dengan kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Allah akibat dari naluri beragama yang dimilikinya sebagai bekal nanti. Dan bagi mereka yang berpikir spiritualistis, kelelahan, materi yang mereka investasikan (‘keluarkan’) merupakan hal yang biasa untuk mendapat ridhoNya.
Sedangkan bagi mereka yang berpikir materislisme untuk menilai mereka yang memiliki spiritualisme, memang tak masuk akal karena di luar jangkauan yang tampak. Dan juga selama ini kita terbiasa berpikir metode ilmiah  yang semuanya harus empiris.
Namun sesungguhnya semangat keberagamaan (spiritual) benar-benar nyata yang yang dapat kita rasakan dan tidak selalu empiris/materi semata. (maaf) tahi unta menunjukkan adanya Unta. Begitu juga alam semesta, manusia dan kehidupan menunjukkan adanya Sang Maha Pencipta. Spiritualitas akan menyebabkan hidup kita bermakna, sedangkan materialistis membuat kehampaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s