Kepedihan dan Kesenangan

Secara umum, kita melakukan suatu tindakan untuk menghindari kepedihan dan memperoleh kesenangan. Kepedihan dan kesenangan inilah yang menyebabkan orang melakukan perubahan. Setiap orang ingin berubah menuju hidup yang lebih baik yang menyenangkan hidupnya. Namun banyak orang yang melakukan penundaan. Mengapa?
Karena mereka percaya, jika melakukan perubahan saat ini akan lebih menyakitkan daripada menundanya. Misalnya, orang yang obesitas, akan menghentikan dietnya, karena menahan lapar lebih menyakitkan sehingga lebih baik menundanya.
Dalam kasus lain juga kita jumpai, orang-orang yang melakukan korupsi, memakan hak orang lain, serakah,  menyalahgunakan wewenang, meraih jabatan dengan curang, dsb karena mereka percaya bahwa di dunia yang fana ini, tanpa materi mereka akan mengalami kepedihan. Dan menunda melakukan keburukan-keburukan tersebut saat pensiun. Mengapa?
Kita menunda  melakukan perubahan karena belum sampai pada ambang batas perasaan yang kepedihannya melebihi rasa takut. Jika kepedihannya melebihi rasa takut dan berkata,”saya sudah tidak tahan lagi.”, baru kita melakukan perubahan. Perubahan bukan atas kesadaran diri.
Kesadaran diri merupakan komponen pertama dan utama dalam melakukan perubahan. Dengan kesadaran diri, sejak awal, kita akan memahami dan memanfaatkan kepedihan dan kesenangan untuk melakukan perubahan tanpa menundanya. Dan dalam jangka panjang dan perubahan abadi, kita percaya akan memperoleh kesenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s