⁠⁠⁠Niat

“Saya rasa jika saya tidak masuk kantor karena sakit, mereka (anak buah) pasti menghabiskan sebagian besar waktu mereka mengobrol atau berbelanja yang membuat mereka bahagia. Berbeda ketika saya masuk kantor, sepertinya mereka bertanggung jawab dan terlihat tekun di depan komputer mengerjakan sesuatu…”
Banyak orang yang tersenyum, rajin, bertanggung jawab, disiplin, mendengarkan dan melayani pemimpinnya sebagai teknik-teknik tertentu agar pimpinannya atau orang lain menyukai mereka sehingga cepat mendapat promosi atau mendapatkan apa yang diinginkannya. Sehingga banyak orang yang berusaha memperbaiki citranya (tampilan luar tidak sama dengan yang ada di dalam) dibandingkan integritas.
Bila niat kita tidak tulus yakni merekayasa sikap baik (senyum, rajin, dll) kita kepada orang lain untuk mencapai  keinginan pribadi semata karena dilandasai paradigma memiliki, maka perilaku kita tak dapat berbohong. Dan dengan berjalannya waktu orang tidak akan mempercayainya karena kebaikannya semu. Dan kita akan membayar pajak (balasan) yang besar walaupun niat masalah hati.
Namun kita dapat memperbaiki niat yang buruk menjadi niat yang tulus (ikhlas) dengan bertanya kepada diri sendiri, apakah aku melakukan kebaikan (senyum, bertanggung jawab, disiplin, dll) dengan imbalan sesuatu? Jika ya, kita harus memaksa niat yang buruk menjadi niat yang baik yang dilakukan dengan kemauan keras, tekun dan terus menerus bahwa niat kita tulus (ikhlas). Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s