Menanamkan Nilai-nilai Utama

“Bangsa ini sakit.”, kata teman yang berprofesi produser eksekutif di media tv nasional saat ngobrol. Saya sependapat dengan teman tersebut. Hal itu juga yang diindikasikan oleh belum berubahnya perilaku korupsi yang masih marak walaupun sudah Reformasi Birokrasi. Bahkan saat 4  anggota DPRD tertangkap KPK sebagai tersangka penerima suap, salah satunya mengatakan, “suap bagi anggota DPRD merupakan hal biasa.”
Pada sisi lain, di lembaga eksekutif di tengah teriakan Reformasi Birokrasi agar pemerintah efektif dan efesien dalam penggunaan anggaran negara, sebagian besar Kementrian/Non Kementrian berlomba-lomba menghambur-hamburkan uang negara dengan dalih penyerapan anggaran yang merupakan kebiasaan akhir tahun. Sungguh ironis.
Di tengah-tengah bangsa yang sakit, saya mencari celah bagaimana hamba yang lemah ini berkontribusi membawa manfaat bagi bangsa yang kita cintai. Pikiran itu terus menerus menggelayuti benak dan tak pernah hilang. Akhirnya, saya temukan jalan itu yakni menjadi pendidik di PNS.
Walaupun sudah banyak noktah hitam di hati yang mengeras, namun menyampaikan nilai-nilai luhur manusia merupakan salah satu cara kecil menjadikan Indonesia lebih baik dan bersih.
Di tengah kerumunan budaya sakit, memberi nilai-nilai mulia seperti kejujuran, amanah, profesional, integritas, empati, disiplin, sungguh-sungguh, tidak memakan hak orang lain, tidak rajus, menghargai orang lain, melayani rakyat, taqwa, anti korupsi, adil, menghindari konflik kepentingan, dsb bukanlah hal yang mudah karena contoh di sekitar berlawanan dengan nilai-nilai tersebut.
Namun dengan optimisme, sepenuh hati, segenap raga dan keyakinan saya percaya jalan menuju Indonesia bersih akan berhasil dengan menanamkan nilai-nilai mulia kemanusiaan. Tentu saja dalam waktu yang sangat lama di mana saya mungkin tak akan melihatnya. Dan saya tidak peduli akan hasilnya karena bukankah Allah menilai apa-apa yang kita lakukan. Dan saya juga tidak peduli bila dikatakan ini hanya mimpi.
Seperti satu lidi yang tidak akan bermanfaat secara berarti. Namun bila menjadi sapu akan sangat bermanfaat. Maka, jika setiap orang dapat berkontribusi di mana pun Ia berada dengan menjadikan nilai-nilai utama kesejatian manusia sebagai pedoman hidupnya, insya Allah menuju Indonesia bermartabat akan lebih cepat.
Bahkan, orang yang memiliki otoritas lebih memiliki peluang besar dengan memberi contoh kebaikan, tidak rakus, tidak korupsi, tidak merekayasa administrasi aggaran yang berlawanan dengan hati nuranj,  tidak sombong, dan empati kepada sesama hingga orang yang dipimpinnya akan mengikutinya.
Memperkaya diri dengan korupsi dengan dalih apapun merupakan jalan keliru dan tidak nyaman (merasa bersalah). Seorang ibu pencuci baju saja dapat menyekolahkan ketiga anaknya di universitas tanpa korupsi, apalagi kita.
Bila kita bimbang saat mengambil tindakan, tanyakan pada hati nurani kita dan nilai-nilai kemanusiaan kita. Apakah tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan kita?
Berusaha mengingkubasi dan mengaffirmasi nilai-nilai luhur kemanusiaan pada diri hingga nilai-nilai luhur tsb mengendap di bawah alam sadar secara terus-menerus dan ketekunan akan sangat bermanfaat. Ketika kita akan melakukan sesuatu yang tidak bermoral/berlawanan dengan hati nurani, secara otomatis nilai-nilai luhur akan meronta untuk menolak hingga perilaku kita mengatakan,”tidak.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s